Sekitar tahun 2015 lalu, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Karawang Timur, ketika mobil kami mogok di daerah Rengasdengklok karena bensin habis, dimana petugas derek tak bisa dihubungi, kami dibantu oleh seorang tukang okel yang hingga kini saya ingat betul wajah dan senyumnya. Pak Maman namanya. Kami dibonceng hamper 4 km untuk membeli bensin (tidak ada penjual bensin eceran yang masih buka di sepanjang jalan waktu itu). Sampai kemudian dapat dan kembali, memperbaiki beberapa komponen hingga mobil dapat berjalan kembali. Menariknya, ketika kami ucapkan terima kasih dan menanyakan bagaimana agar kami bias mengganti jasa pak Maman, dengan santun dalam aksen sunda beliau menjawab “Tidak usah, Pak, tidak usah dibayar. Nanti saja kalau di jalan Bapak lihat ada orang yang mobilnya mogok, Bapak bisa inget saya, jadi Bapak bisa bantu dia”.

Seorang tukang ojek di pedesaan Rengasdengklok ini telah mengajarkan saya bahwa menjadi pahlawan, menjadi bermakna, menjadi inspirasi tak harus mencari dari orang terkenal, yang kesehariannya muncul di majalah maupun televisi. Dari setiap interaksi kita, disitu ada potensi pembelajaran yang luar biasa.

Lantas apa korelasinya dengan kondisi kekinian Bangsa ini? Ijinkan saya sedikit mengulas tentang pembahasan perwakilan pemuda dari seluruh dunia dalam ICPD Beyond Global Youth Forum awal tahun 2015 lalu yang mengangkat tema penyeimbangan bonus demografi dunia, dimana Indonesia adalah satu dari 3 negara yang memiliki bonus demografi (populasi usia produktif dibandingkan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia) tertinggi dan kecenderungan negara-negara demikian adalah melakukan invasi ke luar negeri. Sering saat ini kita lihat sinetron di layer kaya dihiasi oleh karakter asal India. Disisi lain, agak sulit rasanya kalau kita ingin mencari sebuah took yang tak enjual produk bertuliskan “Made in China”. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak M. Jusuf Kalla dalam World Economic Forum tanggal 1 Juni 2016 lalu di Malaysia menyampaikan bahwa keunikan utama yang saat ini menjadi salah satu dari tiang pancang NKRI (selain Pemerintah, Pengusaha, Akademisi, dan Media) adalah komunitas. Tercatat pada Desember 2015 dari Kementerian Hukum dan HAM RI bahwa terdapat 11.487 komunitas yang terdaftar dalam akta notaris entah sebagai LSM atau yayasan serta sekitar 144.000 komunitas non legal-formal yang berdiri di Indonesia dimana 87% diantaranya diisi oleh pemuda.

Ini kontan mengingatkan saya bahwa republic ini didirikan dengan semangat iuran oleh para pemuda yang pada waktu itu tak satupun diantara mereka berencana untuk menjadi terkenal atasnya. Ya, iuran. Ada yang iuran pemikiran, iuran keringat, iuran waktu, hingga iuran darah dan nyawa. Dan semangat itu masih terasa hingga kini dan sering kita sebut sebagai KEPAHLAWANAN. Dan sebenarnya menjadi pahlawan itu tidak identic dengan perang. Menjadi pahlawan itu menyesuaikan jaman.

Saat ini, ada banyak pemuda yang tangguh, ulet, kreatif. Mereka tak menuntut terlalu banyak. Tapi mereka semua mengatakan, “kami melakukan sesuatu untuk Indonesia”. Tak sedikit dari mereka yang memiliki seluruh persyaratan untuk hidup nyaman bagi diri dan keluarganya, namun mereka kesampingkan itu dan memilih untuk melalui jalan-jalan yang mendaki. Sadar bahwa itu memang berat, memang sulit, namun lebih menyadari bahwa disana ada rute menuju puncak-puncak baru dan disana pemuda Indonesia bias menggaungkan pesan, menggaungkan gagasan perubahan, dan untuk itu, pemuda tak harus “menjadi siapa” dulu, Karena pemuda Indonesia amat menyadari bahwa menjadi pahlawan, adalah tentang memberi makna yang kehadirannya dirasakan orang lain.

Selamat hari Pahlawan, selamat menjadi pahlawan-pahlawan baru, selamat menjadi sebaik-baik manusia atas kemanfaatan kita bagi sesama. Karena inspirasi kita, adalah untuk membangun peradaban yang mulia.

Surabaya, 10 Nopember 2016

Mahardika F. Rois

Gerakan Melukis Harapan

Comments

comments

Designed by SUKAWEB.com
Top
Ikuti Kami: